Menuju gerbang yang baru aku melaju,
karena langkah meninggalkan jejak dan jalan mesti kutempuh.
Maka kukemas semangat dibalur keringat menembus pagi nan
syahdu,
berikrar nama suciNya aku berpacu dalam melodi biru.
Sekelebat, masih terlihat gerbang lama dan memorinya nanar
dalam kelu,
lalu hilang sekejap, seperti menderap, ketika kulihat suatu,
kamu.
Teruntuk kamu yang disana,
yang tatapannya laik Arjuna dalam perhelatannya.
Melintas di depanku pada hari pertama,
dan segera buat seisi dadaku berhisteria.
Suatu saat kan kusapa, diriku berkata,
namun hanya pekikan kecil bak distorsi seriosa yang
membahana.
Maka seribu satu tanya berputar dalam kepala,
siapa dia sesosok raga yang memenjarakanku dalam ombang
ambing samudra rasa?
Teruntuk kamu yang wujudnya tak bercela,
dua hari kunikmati orientasi yang memutar segala rasa.
Ketika semangatku redup dan payu, aku tidak lesu,
karena ketika kuangkat daguku, akan terlihat kamu.
Inilah akhirnya, ironi dan bahagia,
akhirnya aku akan resmi melintas ke gerbang selanjutnya,
menggapai cita yang sudah kupagu dalam setiap celah.
Inilah akhirnya, dalam kemegapan bahagia, tersela haruku,
karena tidak akan ada lagi disekitarku, kamu.
Karena tak bisa lagi ku memutar kepala untuk melihat
punggungmu,
karena tak bisa lagi kurasakan eksistensimu.
Jika ini akhir, biarlah dalam lembar ini terpapar,
bahwa aku lemah dan terkapar, bahkan hatiku tak mau
bersandar,
biarlah semestaku tau bahwa ini sesalku yang kelam,
karena seumurku aku akan menahan sesaknya rindu,
tanpa mungkin pernah tau apa atau siapakah